Kamis, 14 Januari 2010

konsep motor roadrace

NOKEN-AS PENGEJAR KOMPRESI

Kompresi tinggi dikejar noken-as Vega dipacu Ahmad Ompong Jayadi. Poros bubungan karya tekniksi bule Swedia ini, angkatan (lift)-nya pendek. Untungnya, kangtaw trek dadakan deras ke kantong si Ompong. Maksudnya, suplai campuran bensin dan udaranya jadi bikin padat ruang bakar.

Moncong piston nggak perlu dicoak, dipapas, atau dilinggis dalam-dalam. Cukup dikeruk 0,5 mm. Dijamin aman meski putaran tinggi terjadi overlap piston dan klep. Wong, jarak payung klep dan piston jauh kok. “Tinggi bukaan klep cuma 4,5 mm. Selisih 3 mm dibanding kem Daytona dulu,” ujar Slamet, mekanik Caltex Yamaha Tim (CYT) perawat pacuan ‘Ompong’ Jayadi.

Alhasil, Vega Jayadi pecicilan mengusung kompresi 12,8:1 dari standar 9:1. Dengan melibas pantat silinder 1 mm. “Sebelum tikungan, putaran telah maksimal. Cepat,” bilang Jayadi, pembalap karatan CYT yang tahun ini berakhir kontraknya.
Dia diisukan bakal dikontrak pabrikan Honda.

Nyok, terbang ke Swedia. Jalan-jalan di sana. Noken-as buatan Mr. Uno. Orang ini karibnya Rammy Aro dari SKF penyokong si Ompong. Mr. Uno mekanik gila speedway. Itu lho, semacam grasstrack. Korekannya memimpin klasemen kejuaraan dunia speedway. Si Ami tinggal bilang, karakter pasar senggol mirip penggaruk tanah muter melulu itu.

Itu dia, kompresi harus besar mengisi torsi bawah. Caranya, mempermak kinerja kem agar tidak mengganggu kompresi tadi. Durasinya diperlebar alias lama. Katup isap mangap 120 sebelum TMA dan tertutup 440 setelah TMB.
Klep buang membuka 400 sebelum TMB dan mingkem 120 setelah TMA.

Hasilnya, total klep masuk terbuka 2360. Itu hasil hitungan 120 +1800+440. Sedang overlapya 'cuma' 240 (waktu buka katup isap ditambah waktu tutup katup buang).

Memang dari hitung-hitungan, bahan bakar malah irit. Bahan bakar dilepas kem sesuai kebutuhan. “Tiap bukaan tinggal 3,84 cm3. Padahal, pakai kem Daytona 5 cm3,” hitung Slamet mengandalkan bensol yang disuplai Mikuni 24 mm disambung leher angsa Honda NS80. Juara di Kemayoran pakai pilot-jet 32,5 dan main-jet 160.

Korbannya putaran mesin. Makanya, pakai noken-as Daytona 15.000 rpm, pakai noken-as Swedia syukur 13.000 rpm. Ini pun terlalu tinggi. “Saya sudah bilang, pilih kompresi tinggi, korbankan rpm. Momen maksimum telah ditolong kompresi. Untuk apa putaran tinggi?” analisis Benny Jatiutomo dari Star Motor. AR-135/Foto : Bambang



PISTON HONDA NICE OVERSIZE 200

Mengejar kapasitas sesuai regulasi, adopsi piston gede. Digamit piston itik Honda Nice versi Thailand. Merek pistonnya TE oversize 200. Diameternya 52 mm.

Konsekuensinya, diameter squish kubah kepala silinder disesuaikan. “Derajatnya dibikin standar, 140. Tapi kubahnya diutak-atik,” bilang Slamet. Otomatis, panjang squish mulur 3 mm.



KNALPOT KETAT

Ketat, lembut
Makin gahar, knalpot dirancang ulang. Pipa perut lebih kecil. Kan, bahan bakar irit. Kompresinya tinggi. “Dari leher sampai perut, pakai asli knalpot Vega. Cuma silencernya ganti. Turbulensi gas buang lebih ketat,” bilang Slamet kelahiran Cimahi 30 tahun lalu itu. Dia juga ayah Nadya.

Lubang ujung silencer lebih kecil ketimbang Daytona. Yang dulu terlalu ngeplong. Gas sisa cepat diusir. Dengan lubang slengser kecil suara rada lembut. Tapi, “Tenaganya lebih yahud,” bangga Slamet yang mengandalkan gir 12-37 di sirkuit Kemayoran saat juara kejurnas seri 8 region 2.



spesifikasi motor standar

No || Motor || Bore x Stroke || Volume Silinder || Rasio Kompresi

1. Kawasaki Blitz R 53 mm x 50.6mm 111 cc 9.3 : 1

2. Kawasaki Athlete 56 mm x 50.6mm 124.6 cc 9.8 : 1

3. Kawasaki Ninja 250 62 mm x 41.2mm 2x 124.5 cc 11.5 : 1

4. Kawasaki KLX 250 72 mm x 61,2mm 249cc 11 : 1

5. Yamaha Crypton 49 mm x 54mm 101.8 CC 9.0 : 1

6. Yamaha Mio 50.0 x 57.9 mm 113.7 cc 8.8 : 1

7. Yamaha Jupiter z 51.0 x 54.0 mm 110.3 cc 9.3 : 1

8. Yamaha Jupiter MX 54 x 58,7 mm 135 cc 10.9 : 1

9. Yamaha Vixion 57 x 58,7 (mm) 149.8cc 10.4 : 1

10.Yamaha Scorpio Z 70 x 58 mm 223cc 9.5 : 1

11. Yamaha RX King 58 x 50 mm 132cc 7.1 : 1

12. Yamaha RXZ 56 x 54 mm 133cc 7.0 : 1

13. Yamaha F1Z 52 x 52mm 110.4cc 7.1 : 1

14. Yamaha Alfa 50 x 52mm 102.1 cc 7.2 : 1

15. Honda GL 100 52 x 49.5mm 105.1 cc 9.2 : 1

16. Honda GL Max 56.5 x 49.5mm 124.1 cc 9.2 : 1

17. Honda GL Pro 61.0 x 49.5mm 144.7cc 9.2 : 1

18. Honda Supra 50.0 x 49.5mm 97.1 cc 8.8 : 1

19. Honda Tiger 63.5 x 62.2 mm 196.9cc 9.0 : 1

20. Honda Megapro 63,5 x 49,5 mm 156.7cc 9.0 : 1

21. Honda CS-1 58 x 47,2 mm 124.7 cc 10.7 : 1

22. Honda Supra PGM FI 52,4 x 57,9 mm 124.8cc 9.0 : 1

23. Honda Blade 50 x 55,6 mm 109.1 cc 9.0 : 1




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar